“nafa!!”
”iya bu,ada apa?” “sini nak,bantuin ibu goreng tempe.”
”iya bu.”
Beginilah kehidupanku sehari-hari. Setiap harinya aku membantu ibuku yang selalu kewalahan di warungnya itu. Kehidupan kami mulai berubah sejak bapak meninggal dunia. Saat itu aku masih duduk di bangku SMP kelas 9, ibu bingung bagimana cara membiayai sekolahku dan kebutuhan sehari-hari kami. Pada hari meninggalnya bapak, ibu sangat terpukul sekali karena bapak adalah tulang punggung keluarga kami sedangkan ibu tidak bekerja. Beberapa minggu setelah meninggalnya bapak, ibu membuka warung di rumah dengan biaya tabungan yang ibu tabung selama bertahun-tahun.
“ibu, nafa berangkat sekolah dulu ya..”pamitku setelah selesai membantu ibu.
”iya, hati-hati ya nak. Ingat belajar yang sungguh-sungguh lho ya!!”pesan ibuku
”he em, nafa akan selalu ingat pesan ibu.”jawabku sambil menganggukkan kepala.
”nafa berangkat dulu. Assalamu alaikum .”
Selama waktu menunjukkan pukul 07.00 hingga 13.00 aku berada di sekolah yang letaknya 1 km dari rumahku. Aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki karena di sekitar rumahku masih masuk kawasan persawahan. Sepulang dari sekolah aku langsung menuju ke rumah, beda dengan teman-temanku mereka semua langsung pergi keluyuran tanpa tujuan. Sedangkan aku harus membantu ibu, kehidupan ini pun aku jalani dengan hati yang lapang walaupun ada sedikit keinginanku untuk bermain bersama teman-temanku yang lain, aku ingin hidup layaknya anak-anak SMA yang lainnya. Tapi itu aku simpan dalam-dalam di lubuk hatiku. Aku ingin membahagiakan ibuku, aku tidak ingin menyusahkannya, beliau sudah susah dengan keadaan yang begini kerasnya. Aku harus membahagiakan dan menjaga ibu, itu tekadku.
Detik-detik sebelum bapak meninggal, bapak berpesan kepadaku untuk menjaga ibu dengan baik,” bahagiakan dan jaga ibumu itu baik-baik ya nak, jangan buat dia bersedih.”Setelah bapak berpesan kepadaku, bapak menghirupkan nafas terakhirnya di depan mataku. Aku menangis histeris saat bapak berpesan itu kepadaku. Aku sempat berfikir bisakah aku melaksanakan pesan bapak itu?? Sempat ada tanda tanya di dalam diriku ini.
Ketika waktu berjalan begitu cepatnya, kejadian itupun terjadi.
BRUUUKK
“ibuuu,ada apa??”teriakku sambil mendekati ibu yang kelihatan pucat wajahnya.
Aku melihat ibuku terjatuh pingsan dengan wajah pucat di ruang tamu. Saking paniknya aku sampai tak sempat berfikir apa yang terjadi pada ibuku ini?? Aku berlari keluar rumah menuju tetangga sebelah rumah untuk meminta bantuan. Saat itupun tetanggaku langsung menggotong ibuku ke rumah sakit terdekat.
Saat ibu sedang di rawat di ruang UGD, tante Yuli datang menghampiriku. Tante Yuli adalah adik dari ibu, aku begitu dekat dengan tante Yuli karena umurku hanya 6 tahun lebih muda dari tante Yuli. Aku berlari menuju tante Yuli,”Tante Yul!!”dia memelukku dalam kehangatan tubuh dan kasih sayangnya, itu membuatku ingat pada ibu. Aku membalas pelukan tante Yuli dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya.
“jangan nangis dong, kamukan sudah besar malu tau.”rayu tante Yul padaku.
“gimana mau nggak nangis orang ibu lagi sakit, ibukan satu-satunya orang tua yang aku punya. Aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayangi untuk yang kedua kalinya.”bantahku
“OK. Tante tau kamu khawatir, tapi jangan tambah kekhawatir ibumu dengan tangisanmu itu. Tante yakin ibumu tidak ingin kau khawatir karena memikirkan keadaan ibumu. Bapak dan ibumu hanya ingin kau tegar dan berusaha menghadapi segala cobaan yang di berikan Allah padamu itu. Apakah kamu mau mengecewakan orang yang sangat kamu sayangi itu??”jelas tante Yul
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menangis terisak-isak. Kalau di pikir-pikir lagi memang betul kata-kata tante Yul, tapi kalau ngelakuin itu berat sekali. Tak segampang orang mengarang cerita yang hanya memerlukan imajinasinya.
“hapus tangismu itu, kamu duduk di sini biar tante yang urus administrasinya dan menanyakan ibumu itu sakit apa. Kamu duduk yang tenang dan berdoa pada Allah semoga ia memberikan yang terbaik untukmu.”perintah tante Yul
Sepeninggalan tante Yuli aku langsung menuju kursi yang sudah di sediakan RS, aku duduk di kursi bagian tengah kursi tersebut. Aku berdoa sama Allah untuk meminta kesembuhan ibu, aku berdoa dengan sungguh-sungguh dalam haru tangisku.
Beberapa jam kemudian tante Yuli menghampiriku.
“kamu istirahat di rumah aja dulu nanti datang ke sini lagi, biar tante yang mengurus ibumu.”
“aku nggak mau, aku mau sama ibu. Lantas bagaimana keadaan ibu?”tanyaku
“ya Allah ni anak, kamu sudah besar bukan anak kecil lagi. Kamu bawakan pakaian ibumu ke sini. Tante tadi tanya sama dokter yang menangani ibumu itu, dia ngomong kalau ibumu dalam keadaan kritis.”jelas tante Yul
Aku masih tak beranjak dari dudukku, aku hanya menatap ke depan dengan pandangan kosong.
“Ya udah kalau gitu tante aja yang bawakan barang-barangmu sama ibumu. Sudah sana kamu jaga ibumu di kamarnya!!”perintahnya
Tante Yuli meninggalkanku sendiri terduduk diam dalam pikiran yang rumit. Aku masih terduduk sambil mengulang kembali apa yang terjadi pada kehidupan keluargaku ini. Beberapa menit kemudian aku berjalan menuju kamar ibu dengan langkah yang gontai.
Saat aku memasuki ruang inap ibu, aku melihat beliau tertidur pulas dengan selang infus yang menggantung di atas kepalanya dan alat untuk bernafas yang berada di mulut dan hidungnya. Di sebelah tempat tidur beliau ada monitor pendeteksi detak jantung yang bergerak semakin lama semakin lurus.
Aku melangkah mendekati ibu dan duduk disebelahnya. Ku genggam dengan erat tangannya yang mulai kasar itu. Tanpa terasa mataku menjadi hangat dan buram dengan genangan air mata yang ingin menetes ini. Tetes demi tetes air mata jatuh bergulir di pipiku.
“bu. Ibu bangun, nafa kangen sama ibu.”ucapku berkali-kali dengan lirih
Beberapa jam ketika aku mulai letih dengan air mata yang keluar terus menerus ini. Tiba-tiba tangan ibu bergerak membalas genggaman tanganku, aku langsung berdiri menunggu ibu membuka mata, setelah ku tunggu beberapa detik kemudian ibu membuka matanya. Ibu tersenyum ketika melihatku, akupun membalas senyumannya. Saking senangnya akupun memeluk beliau sambil mengeluarkan air mata. Terima kasih ya Allah karena kau telah membangunkan ibuku. Doaku dalam hati.
“nafa, jangan nangis dong.”ucap ibu dengan berbisik-bisik di telingaku
“ibu, nafa khawatir sama ibu. Nafa nggak mau di tinggal sama ibu.”jelasku sambil mengusap air mata yang mengalir tadi.
“maaf ya nak, ibu membuat nafa khawatir. Ibu nggak bermaksud membuatmu khawatir dengan keadaan ibu. Nafa jangan khawatir kan ada tante Yuli, nafa harus tegar dan selalu berusaha dalam menghadapi segala cobaan yang di beri sama Allah ya. Segala cobaan yang di berikan padamu itu pasti ada hikmah di balik semua cobaan itu. Nafa harus selalu berusaha dan dekat sama Allah ya.”kata ibu dengan terbata-bata sambil mengelus telapak tanganku.
Tiba-tiba tangan ibu berhenti mengelus telapak tanganku. Aku melihat mata ibu, matanya sudah tertutup rapat lagi. Akupun mendengar bunyi
TITT….
Aku kaget karena di monitor pendeteksi detak jantung itu lurus. Akupun memencet dengan segera tombol merah yang berada di meja dekat tempat tidur ibu. Beberapa detik kemudian para perawat dan dokter berlari menghampiri ibu, aku menunggu di luar dengan keadaan panik. Aku menundukkan kepala sambil berdoa dengan sungguh-sungguh dan menitikkan air mata pasrah.
“Ada apa?? Kenapa kau di luar, kenapa kau menangis lagi?”tanya tanteku dengan panik
Akupun mendongakkan kepalaku dengan lemas dan menjelaskan apa yang terjadi. Setelah penjelasanku selesai tante Yuli terduduk lemas di sampingku. Beberapa saat kemudian dokter keluar dengan wajah pasrah dan mejelaskan bahwa ibuku sudah meninggal dunia. Aku langsung memeluk tanteku dan menangis dengan histeris. Tante Yulipun memelukku dengan erat sambil menitikkan air matanya.
Pagi hari di saat semua orang yang berpakaian hitam mulai membubarkan diri masing-masing, aku dan tante Yuli duduk di dekat makam ibu. Aku meratapi makam yang telah menjadi tempat peristirahatan ibu untuk selamanya. Tante Yuli masih memelukku sambil mengajakku untuk meninggalkan makam ibu. Akupun menjauh meninggalkan tempat peristirahatan ibu dengan air mata yang berderai dengan deras.
“SELAMAT JALAN IBU.”ucapku dalam hati.
wiih..
datang ke malang aku sudah di sambut dengan kejadian yang aneh2…
yang 1 : ngelihat ibu2 pakai daster sambil ngendarai motor jupiter yang gede tu…
yang 2 : makan bakso bakar yang ternyata baksonya itu di bakar pakai bumbu sate,ihhh rasanya aneh…
yang 3 : mobil abiku nabrak polisi yang lagi asyik2nya tu sm hpnya…tau g sih jantungku berdegum banter banget..sudah gitu polisinya malah ngomel2…terus siapa tu yang harus disalahkan???
yang 4 : ngelihat ibu2 yang yang nyetir sepeda motor sambil ngonceng 2 anaknya & suaminya booo…anehkan
yang 5 : lihat ada anak yang pakai kerudung tapi ibunya g’ pakai kudung, dah gitu dandanannya menor pula…
apa dunia mau kiamat ya????
foto waktu aku di malangnya kapan2 ya…